Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

MERAJUT MIMPI MENJADI PENULIS SEJATI



 Awal Mula
Kehidupan manusia untuk mencapai muaranya berliku, mendaki lagi terjal, melewati dalamnya palung, luasnya samudra, panasnya padang pasir, dan kerikil-kerikil tajam. Membuat manusia seringkali berhenti sebelum sampai ke muaranya. Manusia yang berhasil melewati semuanya, dialah manusia yang paling berbahagia. Karena setelah rintangan-rintangan yang dilaluinya, dia akan menemukan padang datar berumput hijau, dengan air gemericik mengalir, angin sejuk berhembus, matahari yang cukup untuk menemaninya melakukan hasrat selanjutnya.

A man without ambition is like bird without wings. Manusia tanpa ambisi seperti burung yang tak punya sayap. Sebuah pepatah yang kubaca di dinding-dinding gelap masa laluku. Dia takkan bisa terbang kemana-mana. Hanya diam di tempat menikmati yang tersaji di depannya. Seorang teman bahkan mengatakan padaku “Punyailah cita-cita setinggi bintang di langit! Karena apa? Dengan manusia mempunyai cita-cita setinggi itu, dia akan terus berusaha untuk mencapainya. Meski pada akhirnya dia tak bisa mencapai setinggi bintang dan hanya bisa mencapai setinggi pohon kelapa, bukankah itu lebih baik daripada manusia yang tak punya cita-cita karena manusia itu tak mencapai apapun, dia hanya berdiri di tempatnya sekarang berdiri.

Obama dalam pidato kenegaraan pertamanya mengatakan bahwa “Hari ini saya katakan kepada kalian bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi adalah nyata. Tantangan ini serius dan banyak. Tidak akan mudah diatasi dan tidak bisa diatasi dalam jangka pendek. … Pada hari ini, kita berkumpul karena kita lebih memilih harapan daripada ketakutan, kesatuan tujuan daripada konflik dan pertentangan.” Dari pidato ini bisa disimpulkan bahwasanya untuk mencapai harapan atau cita-cita harus menghadapi tantangan-tantangan yang nyata, serius, dan banyak. Hanya manusia yang memilih harapanlah yang akan berhasil menghadapi tantangan-tantangan tersebut.

Aku seorang manusia dengan cita-cita tinggi juga. Menjadi penulis adalah cita-citaku. Cita-cita yang kupatri sejak lama ketika aku belajar di Sekolah Dasar dulu. Seiring berjalannya waktu, cita-cita ini terlupa begitu saja. Aku mempunyai pekerjaan di luar cita-citaku itu. Meski begitu, aku tetap berusaha mencapainya. Kukirimkan sejumlah karyaku di media massa. Karya pertama yang dimuat adalah dua buah puisi di Kakilangit majalah Horison tahun 2001 lalu. Setelah karya ini, tidak diikuti karya-karya lainnya. Aku vakum beberapa lama. Tahun 2002 enam puisiku dimuat di tabloid Tren. Disusul cerpen untuk anak di Kompas pada tahun 2005, dan dua cerpen untuk anak di Suara Merdeka.. Hanya itu saja yang berhasil dimuat di media massa. Gimana mau membuat buku kalau seperti ini terus? Penulis tanpa buku bukan penulis namanya.

Tahun 2007 adalah  titik balik semuanya. Aku mulai merintis karirku menjadi seorang penulis. Aku ikut lomba menulis Karya Ilmiah Populer untuk guru pada tahun ini. Aku kalah hanya dapat juara dua. Nilainya hanya kalah satu poin dari juara pertama. Tahun 2008 aku tak menyia-nyiakan kesempatan. Aku ikut lomba yang sama. Lagi-lagi aku kalah. Sejak saat itu aku marah, marah pada diriku sendiri. Punya bakat tapi disia-siakan saja. Aku pun mengambil langkah nekad. Kalau menunggu media atau penerbit yang menerbitkan bukuku, akan membutuhkan waktu lama untuk mencapai cita-citaku. Aku pun nekad menerbitkan buku pertamaku. Aku buka semua cerita yang kutulis bertahun-tahun lamanya. Tidak langsung kutemukan. Aku lupa nama file yang kugunakan untuk menyimpan cerita-cerita itu. Sekian lama mencari, akhirnya kutemukan ceri-cerita itu. Kuedit, kuprint, dan....Harus diterbitkan!!!! Tidak ada kata lain. Harus!!!!  Walaubagaimanapun caranya!!! Aneh ‘kan? Orang sudah kalah nulis, eh malah nekad nerbitin buku.

Setelah itu, mulailah aku mencari informasi bagaimana cara menerbitkan buku secara indie alias self publishing. Dapat sebuah buku hasil pinjam dari seorang teman karya Edy Zaques (judulnya lupa, nanti dicek dulu ya). Buku ini membahas lika-liku menerbitkan buku sendiri. Langkap!! Mulai dari cara membuat ISBN, cari endorsement hingga perkiraan biaya yang dikeluarkan untuk mencetak buku. Buku ini juga memberikan tips tentang cara mencari judul yang baik, dan juga tips serta trik cara menjual buku yang diterbitkan secara indie – meskipun aku tak menggunakan tips dan trik yang diberikannya. Aku punya cara sendiri untuk mnejual bukuku. Akan kujelaskan di kalimat-kalimat selanjutnya, ya. Maklum penerbit indie ‘kan belum mempunyai jaringan distributor?

Jadilah, aku semakin nekad karena tersemangati buku tersebut. Aku mulai mencari ilustrator. Tak butuh waktu lama karena temanku mempunyai kecerdasan visual ini. Akhirnya, Luvila kumintai tolong untuk membuat ilustrasi bukuku ini. Hasilnya sebenranya lumayan. Sayangnya, dia terburu-buru berangkat ke Lamongan. Jadi, gak sempat mengarsir ilustrasinya. Kalau ditambah arsiran, ilustrasinya keren sekali. Langkah selanjutnya, mencari editor. Aku cari editor freelance yang kebetulan juga dia bekerja di sebuah penerbitan di Semarang. Sayangnya, editorku tidak terbiasa dengan tulisan fiksi. Akibatnya, masih banyak ditemukan sejumlah kesalahan. Ya, tak ada gading yang tak retak. Mudah sekali ternyata. Next, aku cari percetakan yang akan mencetak bukuku. Dapat Tinta Institute. Aku sempat bertemu pemiliknya untuk pembicaraan masalah harga. Pertemuan pertama dilanjutkan dengan pembicaraan lewat SMS atau telepon. Tapi, harga yang ditawarkan belum terjangkau modalku meski dia sudah memberikan sejumlah potongan harga. Jadi, aku cari yang lain. Dapat juga. Temanku ternyata juga kerja di percetakan, harganya lebih murah. Jadilah, aku minta dia buat layout dan cetak sekalian.

Yang paling mendebarkan adalah mencari ISBN. Tapi, sebelumnya aku akan bercerita syarat-syarat mengurus ISBN. Pertama-tama, kamu harus mempunyai penerbitan. Jangan bayangkan modalnya jutaan rupiah. Modal seratus ribu bisa kok. Caranya, buat stempel, kemudian kertas berkop surat. Sudah jadi. Kop suratnya berisi nama penerbitan dan juga alamat, nomor telepon, fax (kalo ada), sudah jadi deh. Habisnya nggak ada 100 ribu. Setelah itu, siapkan fotokopi cover buku, halaman kata pengantar (untuk buku fiksi gak pake gak apa-apa), surat permohonan mendapatkan ISBN, menandatangani surat pernyataan mau menerbitkan berapa buku setahunnya (bisa diminta di Perpusnas). Sudah itu saja yang harus disiapkan.

Sekarang baca pengalamanku:
Aku jadi ke Jakarta. Nanti malam berangkat naik kereta bisnis dari stasiun Tawang Semarang. Aku berharap perjalananku ini menyenangkan. Maksudku, urusanku di Jakarta bisa selesai dalam satu hari saja. Maklum waktu itu ‘kan hari efektif kerja. Gak enak kalau izin lama-lama. Kasihan yang menggantikan aku mengajar murid-muridku di kelas II D SD Islam Hidayatullah. Sesuai dengan doa dan harapanku. Urusanku memang selesai dalam satu hari. Yang paling mendebarkan adalah perjalanan dari Semarang ke Jakarta.  Aku ke Jakarta sendiri berangkat Pk. 19.00 naik kereta bisnis. Kupilih kereta bisnis dengan perhitungan kereta ini akan lebih cepat sampai di Jakarta. Selain itu, kereta ini takkan banyak berhenti di stasiun, jarang ada pedagang dan penumpang yang menggelar tidur lesehan di lantai kereta.

Sayangnya, perhitunganku salah. Banyak kujumpai pedagang naik turun menwarkan dagangannya. Penumpang yang seenaknya menggelar koran di lantai kereta dan tidur di sana. Benar-benar perjalanan yang jauh dari bayangan. Bisnis ternyata sama dengan ekonomi. Bedanya adalah kereta api bisnis berangkat Pk. 20.00 dari stasiun Tawang, sedangkan kereta api ekonomi berangkat Pk. 19.00 dari stasiun Poncol. Masalah kecepatan, kereta api ekonomi sampai ke Jakarta lebih dahulu daripada kereta api bisnis. Karena apa? Karena kereta api api ekonomi berangkat terlebih dahulu. Baru satu jam kemudian kereta api bisnis menyusul berangkat dari stasiun Tawang.

Kebetulan juga aku berangkat ke Jakarta pada hari Minggu. Jadi, kereta penuh sesak oleh orang-orang yang akan kembali ke Jakarta.. Syukurnya, aku membeli tiket pada siang hari hingga aku masih mendapatkan tempat duduk.

Aku perempuan. Melakukan perjalanan malam hari sendirian. Benar-benar gila ‘kan? Temanku yang di NTT, bahkan ngatain aku gila karena nekad ke Jakarta sendiri. Tapi, mau gimana lagi? Kalau mengajak teman berarti ‘kan membayarkan semua biaya akomodasinya? Modal yang kukeluarkan akan semakin banyak. Padahal, aku belum yakin dengan hasil penjualan bukuku nantinya.

Perjalanan yang  melelahkan. Sampai di Jakarta, Pk. 03.00 pagi. Tempat yang kutuju pertama kali adalah mushala stasiun Pasar Senen. Sudah ada beberapa orang di sana. Mereka sama sepertiku: menunggu waktu shalat. Karena waktu shalat masih lama, kuputuskan untuk tidur lagi di sana. Setelah tidur bebrapa lama, waktu shalat Subuh tiba. Kami shalat berjamaah bersama. Berdoa sebentar dan aku kembali tidur. (Gak mungkin dong langsung berangkat ke Perpusnas. Masih pagi buta. Lagian Jakarta ‘kan terkenal dengan tingkat kriminalnya yang lumayan  tinggi jadi harus hati-hati.)

Pk. 06.30 aku keluar dari tempat persembunyianku (mushala maksudku). Banyak yang nawarin ojek. Semua kutolak. Mumpung di Jakarta. Lebih baik naik busway. Cihuy!! Aku tanya satpam deh. Kalo mau ke Salemba, naik busway gimana caranya? Dengan sabar satpam itu menjelaskan. Dia juga menyarankan padaku untuk naik angkot saja. Tapi, aku tidak mau. Aku mau naik busway karena...mumpung di Jakarta kan?

Jadilah, aku naik busway. Murah pisan euy! Hanya Rp 2.000,00 sudah sampai Sint Carolus. Sebelum sampai Sint Carolus, busway yang kutumpangi melewati beberapa halte. Yang kuingat adalah halte kampus Universitas Indonesia yang ada di Salemba. Dari halte Sint Carolus, aku berjalan mencari Perpusnas. Setelah bertanya pada beberapa orang, akhirnya kutemukan juga tempat yang kucari. Sebah geduang megah di Jalan Salemba Raya 28A. Aku kepagian sampai di Perpusnas. Hanya Satpam yang menyambutku. Dia mempersilakanku duduk di kantornya, di sebuah ruangan di de pan gedung Perpusnas. Pk. 08.00 bagian ISBN  dan KDT baru buka.

Waktu berjalan lambat. Kuputuskan untuk mencari sarapan saja dulu. Kutemukan sebuah warung pinggir jalan yang ramai didatangi pembeli. Kupesan Soto Jakarta. Lumayan enak dengan harga yang lebih mahal dibanding dengan harga yang ada di Semarang. Setelah sarapan, kuputuskan kembali ke Perpusnas. Waktu masih lama untuk menunjuk Pk. 08.00. Kuputuskan untuk mencari mushola dulu. Mushola itu ada di bagian belakang gedung Perpusnas di bawah pohon yang rindang. Udarany juga sejuk sekali. Aku shalat Dhuha dan ....tidur di sana. Ketika waktu menunjukkan Pk.09.00, aku keluar dari mushola dan berjalan menuju lantai II gedung perpusnas. Setelah naik lift, aku tengok kiri, di sana ada tulisan ISBN dan KDT. Kulangkahkan kaki ke sana. Setelah sampai, kuberikan semua persyaratan membuat ISBN. Tak ada lima menit menunggu, ISBN itu jadilah. Biayanya pun murah sekali hanya Rp 25.000,00

Karena senang sekali, kutelepon sobatku. Dia teman yang ada pada saat aku terluka. Jadi, kalau aku sedang senang atau mendapatkan nikmat yang tak terduga dari Allah, orang pertama yang kutelepon adalah dirinya. Dia sedang mengajar rupanya – dia seorang guru di sebuah Sekolah Dasar swasta di Klaten, dan ketika kutelepon di belakangnya ramai sekali murid-muridnya sedang berceloteh
“Assalamualaikum,” sapaku.
“Waalaikumsalam,” jawabnya.
“Pak Iqbal ya,” lanjutku. “lagi istirahat ‘kan”
“Ada apa?” tanyanya tak menjawab pertanyaanku.
“Sedang istirahat ‘kan?” ulangku lagi.
“Ada apa?” ulangnya lagi.
“Kok ramai sekali?” tanyaku tak nyambung sama sekali.
“Iya! Suara anak-anak sedang istirahat,” jawabnya.
“Di sini ramai Pak,” balasku. “gak dengar sama sekali. SMS saja ya?” (Aneh ‘kan sudah ngomong dari tadi, ujung-ujungnya hanya SMS. Sebal sekali aku pada diriku sendiri.)
“Ya,” balasnya singkat.
Telepon kuputus. Aku mulai menulis pesan di HPku. Kemudian, kukirimkan SMS itu kepadanya. Dasar sobat aneh, gak dibalas SMSku. (Maunya aku sih, dia balas en beri selamat gitu loh). Tapi, emang orangnya begitu, aku gak bisa paksa. “SMSmu ‘kan bukan pertanyaan, mengapa harus kubalas?” kilahnya.

Orang kedua yang kutelepon adalah Roni Era Wiguna. (Itu tuh endorser bukuku). Dia tidak terlalu berperan dalam bukuku ini sih tapi … dia berhak tahu karena dia telah mau mengendorse bukuku.
“Pak, aku sudah mendapatkan ISBN untuk bukuku,” kataku langsung saja.
"Selamat ya, Mbak Riya," balasnya.
"Terimakasih," jawabku.
"Ditunggu kiprah selanjutnya," lanjutnya.
"Ok. I will do the best for Allah," balasku.
“Semoga menjadi best seller,” doanya.
“Amin,” sambutku.
Telepon kuputus. Aku termangu di depan kantor Perpusnas. Ternyata begitu mudah mendapatkan ISBN. Tak sesulit yang kubayangkan. Aku pernah mau minta tolong pada seseorang untuk menguruskan ISBN bukuku. Dia memberiku harga yang tinggi. Aku tidak menerima tawarannya.

By the way, Teman-Teman pasti bertanya bagaimana aku bisa mendapatkan cara-cara mengurus ISBN dan persyaratan apa yang harus kupenuhi? Allah memudahkan jalan hamba-Nya yang mau berusaha. Aku mempunyai seorang contact di Multiply. Orin namanya. Gak sengaja aku mengunjungi blognya. Aku berlama-lama di blognya. Dari postingannya aku tahu kalau dia seorang penulis. Kebetulan sekali juga, aku menemukan postingannya tentang cara mengurus ISBN. “Alhamdulillah,” ucapku tak henti-henti. Aku kopi artikelnya – sebelumnya minta izin dulu untuk mengkopi artikelnya. Aku tulis saja di halaman komentar di bawah artikel yang dipostingnya. Orin mengizinkan aku mengkopi artikelnya. Kucetak artikel tersebut. Kujadikan panduan untuk mengurus ISBN bukuku.

Teman-teman pasti bertanya juga darimana aku mendapatkan uang untuk mencetak bukuku? Kebetulan aku seorang guru. Dapat gaji ‘kan? Aku tabung gajiku selama tiga bulan. Hasilnya bukuku pun bisa tercetak. Tak harus menunggu penerbit untuk menerbitkan buku kita ‘kan?

Setelah beberapa termenung di depan Perpusnas, kuputuskan untuk masuk ke dalam gedungnya. Gedung perpustakaan itu luas sekali. Buku-bukunya juga banyak meskipun aku tak bisa meminjamnya. Ada juga internetnya. Sayangnya, internetnya sedang dalam perbaikan. Jadi tak bisa digunakan. Bosan di dalam gedung, aku ke luar. Baru Pk. 10.00. Masih lama untuk sampai Pk. 19.00 ketika kereta ekonomi Jakarta – Surabaya berangkat. Akhirnya, kuputuskan kembali ke Stasiun Pasar Senen. Daripada menunggu di Perpusnas lebih baik menunggu di Stasiun Pasar Sener, pikirku. Sesampainya, di stasiun masih pk. 10.30. Masih lama ‘kan kalau sampai Pk. 19.00? Jadi, aku tanya sana sini deh. Ada kereta yang lewat Semarang berangkat lebih gasik gak?  Keputusanku untuk menunggu di Pasar Senen tidak sia-sia. Ternyata ada kereta ekonomi yang lewat Semarang berangkat lebih awal. Kereta api ekonomi Matarmaja jurusan Jakarta-Malang lewat stasiun Poncol Semarang berangkat dari Jakarta Pk. 15.00.  Asyik!! Pulang akhirnya. Aku pilih naik kereta ini dengan resiko sampai Semarang Pk. 22.00. Gak apa-apa deh.

Karena kereta ekonomi, banyak pedagang berjualan. Para pedagang naik turun bergantian di setiap stasiun yang disinggahi Matarmaja. Asyik pisan atuh! Habis harganya murah meriah. Selain itu, jenis makanannya macam-macam. Jadi, banyak makan deh di kereta. Ada juga yang berjualan Batik Pekalongan. Harganya juga gak kalah murahnya. Kuputuskan untuk mengencangkan ikat pinggang. Aku tak membeli segala macam pakaian. Para pengemis, pengamen juga tak ketinggalan. Pengamen datang silih berganti membawakan lagu-lagu yang hit pada saat ini. Kuputuskan untuk tak berbagi. Bukan apa-apa, mereka masih muda dan kuat mengapa menjadi pengamen? Alhasil, aku dapat omelan panjang dari salah satu pengamen tersebut. Aku tak begitu mempedulikannya.

Kereta api ekonomi Matarmaja lumayan tepat waktu. Aku sampai Semarang Pk. 22.00 lebih sedikit. Sampai di Stasiun Poncol banyak sekali tukang ojek, taksi, tukang becak yang menawarkan jasanya. Kupilih ojek saja. Biayanya lebih murah jika dibandingkan taksi. Kalau naik becak juga gak bisa ‘kan? Emang kuat tukang becaknya mengayuh di tanjakan yang ada di beberapa jalan di kota Semarang? Naik ojek dari Poncol ke Jatingaleh tak membutuhkan waktu lama.


Endorsement
Gak lengkap rasanya buku tanpa endorsement. Aku hubungi penulis terkenal yang ada di Multiply. Salah satunya adalah Andrea Hirata. Andrea kukirimi Personal Message on Multiply. Bilang kepadanya, bisakah Andrea mengendorse bukuku? Satu bulan, dua bulan, tiga bulan kutunggu balasannya. Tak ada balasan. “Mungkin Doi sibuk banget promo Maryamah Karpov,” kata pikiranku yang positif banget. “Makanya gak ada respon.” Sudahlah. Cari yang lain saja. Ternyata banyak sekali penulis yang mempunyai blog di Multiply. Aku menemukan dua penulis yang tidak asing di telingaku. Aku sering membaca buku-buku mereka.

Mereka tidak langsung mengiyakan untuk mengendorse tulisanku. Mereka sample tulisanku. Kukirimkan sejumlah cerpen. Salah satu diantara mereka mengkritik tulisanku yang katanya tidak ada konfliknya – padahal tulisanku yang dikritiknya pernah dimuat di media lokal lho. Salah satu diantara mereka juga bertanya yang nerbitin siapa? Alamatnya dimana? Yang sudah endorse siapa saja? Aku jawab dengan jujur kalau yang menerbitkan adalah indie publishing di Semarang. Penerbitnya belum terkenal karena …kan penerbit indie gimana mau terkenal? Yang sudah endorse adalah si A, B, C, dan D – nama-nama mereka bisa dibaca di kalimat-kalimat selanjutnya. Sayangnya,... aku belum dapat endorsement dari mereka. Satu diantara mereka tak memberi konfirmasi apa-apa. Yang satunya jujur kutulis memberiku nomer Hpnya. Tapi, aku gak menghubunginya. Males banget. Ribet sekali sih! Jadi, terpaksa deh endorsement seadanya. Mereka teman-temanku dari Milis Penulis Indonesia dan dua teman dari kehidupan nyata – maksudku bukan teman online. Terimakasih sebesar-besarnya kusampaikan kepada: Kang Digun dan Aveline Agripina dari milis Penulis Indonesia, makasih banyak ya. Khonsa Khorunisa aka Rias Nurdiana, thank you. Mr. Roni Era Wiguna, tengkyu juga ya. Terimakasih atas endorsement gratisnya. (Emang kalau endorse harus bayar ya? Nggak kan?)

*Dua bulan kemudian aku gabung dengan milis Penulis Bacaan Anak. Salah satu anggota milis bertempat tinggal di Semarang. Setelah chatting lewat facebook selama beberapa lama, diputuskan untuk kopi darat. Aku pun kopi darat dengannya. Aku ke rumahnya. Tidak langsung ketemu rumahnya sih. Ya, aku mencari rumahnya beberapa saat. Akhirnya ketemu juga. Pembicaraan kami meliputi banyak topik. Salah satu topik adalah mengenai endorsement. Dia cerita kalau ada beberapa endorser yang meminta bayaran. Baru tahu aku sekarang, kalau endorser itu ada juga yang minta bayaran – kalau endorser minta bayaran, bukunya jadi gak obyektif dong? Kupikir gratis. Kalaupun toh diberi kenang-kenangan, ya, berupa buku yang diendorse olehnya dan sudah dicetak dan siap diedarkan distributor.

Editing, Cetak, Hasil
Setelah ISBN keluar, buku mulai diedit. Aku minta tolong Kang Mustakim. Proses editing adalah proses terlama dibanding proses-proses sebelumnya. Editing pertama adalah membenahi kata-kata yang salah. Misalnya, huruf dalam sebuah kata kurang. Selanjutnya, pemakaian huruf besar. Banyak kesalahan ditemukan dalam hal ini. Setelah itu, baru ke kalimat yang perlu dihaluskan. Buku pun siap dicetak. Cetakan awal hanya satu saja. Buku kemudian kuserahkan kepada second readerku – seorang teman, Aditya Meilia namanya, yang kebetulan mempunyai interest yang sama denganku: menulis. Lia –temanku biasa dipanggil – masih menemukan banyak kesalahan. Dia pun mencoret banyak kata yang salah. Hasil coretannya kuserahkan kepada lay outer bukuku – Haris namanya. Haris memperbaiki coretan Lia. Kemudian, dia mencetak lagi satu buku dan diserahkan padaku. Aku membaca kembali buku itu. Masih ada sejumlah kesalahan. Aku kembalikan lagi buku tersebut kepada Haris. Haris memperbaiki kesalahannya. Akhirnya, buku itu siap cetak.

Sekarang, buku itu sudah dicetak. Hasilnya, jauh sekali dari bayangan. Aku agak kecewa dengan hasil cetaknya. Mengapa? Buku itu adalah impianku. Buku pertama yang nekad kuterbitkan dengan biaya yang tidak murah tapi hasilnya mengecewakan. Huruf hasil cetakannya tidak seperti huruf pada buku-buku lain. Kelihatan agak buram. Selain itu, satu sub judul hilang entah kemana. Benar-benar membuatku panik sejenak. Gimana bisa laku kalau seperti ini? Aku merutuk kondisi ini. Belum lagi, ada sejumlah halaman dalam yang tak ada kalimatnya, potongan yang tidak rapi, halaman yang terbolak-balik dan … aku cetak seribu eksemplar yang sampai di aku hingga sekarang bartu tujuh ratus dua buku. Yang lain kemana? Aku telepon percetakanku. Dia bilang buku yang dicetak maksimal hanya delapan ratus eksemplar. Jadi, dia hanya akan menambah sembilan puluh delapan buku. Mengecewakan ‘kan?

Marketing bukuku
Untuk pemasarannya bagaimana? Untuk yang ini, aku sudah tawarkan ke teman-temanku sebelum buku cetak. Hasilnya ada sekitar 50 pembeli. Lumayan kan? Masih sisa tujuh ratus lima puluh. Bagaimana aku menjualnya? Aku memutar otak sebentar. Aku minta tolong pada kedua adikku untuk menjual pada teman-temannya. Alhamdulillah. Buku itu laku juga.

Masih ada sisa banyak di rumah. Langkah apa yang harus kulakukan selanjutnya? Aku berpikir sebentar. Lomba! Ya, aku akan mengadakan lomba mata pelajaran tingkat kota Semarang dan sekitarnya. Aku akan promo bukuku di sana dan menjualnya kepada para peserta lomba. Ide brilian kurasa.

Tanggal 14 Juni 2009 lomba itu diadakan. Aku bekerjasama dengan temanku. Salah satu hadiah peserta lomba adalah bingkisan. Aku meminta temanku untuk membeli bukuku sebagai hadiah bingkisan. Temanku menyetujuinya. Alhamdulillah. Bukuku bisa terjual lima puluh eksemplar pada lomba ini. Jadi, sekarang jumlah keseluruhan buku yang terjual adalah seratus eksemplar. Kemudian tanggal 16 Agustus 2009 aku juga mengdakan lomba di Giant. Ada sekitar 110 peserta semuanya mendapatkan satu eksemplar bukuku. Total sampai sekarang buku indie pertamaku laku sekitar 350 eksemplar. Tidak banyak memang. Tapi, untuk ukuran pesaran yang kulakukan sendiri tanpa distributor, ini adalah sesuatu hal yang luar biasa.

Ini link sponsor lomba:http://denaihati.com/



22 CommentsChronological   Reverse   Threaded
zukruf85 wrote on May 13, '10
cerita yg panjang dan menarik...akhirnya..
tokoibubagus wrote on May 14, '10
wow, benar-benar perjuangan keras say, tapi Insya Allah hasilnya manis ya, amin...
ummuthoriq wrote on May 14, '10
cuma saku kata: wow
buku pertamaku sih gak pake perjuangan
jelas beda manisnya yah :)
sulthanah wrote on May 14, '10
cuma saku kata: wow
buku pertamaku sih gak pake perjuangan
jelas beda manisnya yah :)
Thanks Mbak.
sulthanah wrote on May 14, '10
wow, benar-benar perjuangan keras say, tapi Insya Allah hasilnya manis ya, amin...
Hasilnya: kenal Dedew, Mbak Aan, dll
sulthanah wrote on May 14, '10
cerita yg panjang dan menarik...akhirnya..
Akhirnya datang juga....hehehe ini mah acara di trans TV
nikinput wrote on May 14, '10
ooo...lomba ya :)

mba, kalau pergi sendirian gitu mending naik eksekutif lagiiiiiiiiii.....ga terganggu ama pedagang dan dapat bantal plus selimut :p relatif aman dari kemalingan juga :)

ISBN-nya ama tiket kereta mahalan ongkos transport ya, ha ha haa :)) kenapa ga minta tolong teman di jakarta yang ngurus mba? pembuatan ISBN harus diurus sendiri kah aturannya ?

Mba, setelah kubaca pengalaman mba yg udah bisa ngurus semua hal kayak gitu, apa ga mendingan mba nyari investor aja buat bikin penerbitan sendiri? tuing...tuing...tuing...;;-)
anazkia wrote on May 14, '10
Mbak, makasih yah dah ikutan. Peserta, hanya boleh mengirimkan maksimal dua karya :)
sulthanah wrote on May 15, '10
ooo...lomba ya :)

mba, kalau pergi sendirian gitu mending naik eksekutif lagiiiiiiiiii.....ga terganggu ama pedagang dan dapat bantal plus selimut :p relatif aman dari kemalingan juga :)

ISBN-nya ama tiket kereta mahalan ongkos transport ya, ha ha haa :)) kenapa ga minta tolong teman di jakarta yang ngurus mba? pembuatan ISBN harus diurus sendiri kah aturannya ?

Mba, setelah kubaca pengalaman mba yg udah bisa ngurus semua hal kayak gitu, apa ga mendingan mba nyari investor aja buat bikin penerbitan sendiri? tuing...tuing...tuing...;;-)
Waktu itu, aku belum punya relasi yang mengerti seluk beluk penerbitan and perbukuan, so, pergi deh ke sana. TApi, aku sering kok ke jakarta naik ekonomi hehhe. Mengenai penerbitan sendiri, sedang digagas dan dikembangkan. Untuk cari investor, belum berani, semua modal sendiri dulu. Doain sukses ya Mbak Nov
sulthanah wrote on May 15, '10
anazkia said
Mbak, makasih yah dah ikutan. Peserta, hanya boleh mengirimkan maksimal dua karya :)
Ok, padahal aku mau kirim satu lagi lho hehehe
anazkia wrote on May 15, '10
Ok, padahal aku mau kirim satu lagi lho hehehe
wekekekek.. nanti yang lain kesian dunk...
sulthanah wrote on May 15, '10
hehehe...ya sudah...gpp. Oh, iya lomba diumumkan kapan?
anazkia wrote on May 15, '10
Kalo gak sibuk banget dan gak rebet, 1 minggu setelah deadline
sulthanah wrote on May 16, '10
Thanks Anaz
devietriadi wrote on May 17, '10
semangat yg menginspirasi... :)
sulthanah wrote on May 18, '10
semangat yg menginspirasi... :)
Ikutan lombanya Sis, semangat seorang ibu dalam mendidik anaknya... .
babahusein wrote on May 21, '10
Menakjubkan... Terima kasih sudah berbagi pengalamannya... Wish you A Very Good Luck.
sulthanah wrote on May 21, '10
Menakjubkan... Terima kasih sudah berbagi pengalamannya... Wish you A Very Good Luck.
Terimakasih. Salam kenal.
babahusein wrote on May 22, '10
Salam kenal juga. Sudah saya add Mba, mohon di accept. Makasih...
sulthanah wrote on May 22, '10
Ouh ya... sama-sama. Ok, saya belum cek.
anazkia wrote on May 22, '10
Mbak, emang buku pertamanya judulnya apa?
sulthanah wrote on May 22, '10
Liburan yang Tak Terlupakan dan Cerita-Cerita Lain, kumpulan cerita anak. Anaz mau pesan?
Add a Comment