Mungkin teman-teman tidak percaya dengan ceritaku ini. Tapi, ini benar kisah nyata waktu zaman kuliah dulu. Beberapa mahasiswa miskin berkumpul menjadi satu dalam sebuah rumah kontrakan, sekarang setelah tujuh tahun berlalu mahasiswi-mahasiswi miskin itu sudah menapaki jalan yang enak dan nyaman. Yang pertama adalah Ruhama, dia sekarang menjadi PNS di Cirebon, Mahdiyah - dia mempunyai 3 rumah makan di sekitar kampus Unnes Semarang meski dia tidak pernah lulus dari kuliahnya, Umi - temanku makan asam jawa - sekarang telah menjadi staf akunting di perusahaan semen HOLCIM, Qisti sudah menjadi PNS di Subang, Jawa Barat, kemudian aku sendiri, aku menjadi guru di sebuah sekolah dasar islam di Semarang dan memiliki lembaga bimbingan belajar.
Tak semua dari kami menjadi sukses. Temanku yang bernama Amina, dia gagal total di dunia pendidikan dan bisnis juga. Hilmy dia gagal di pendidikannya tapi lumayan sukses sebagai wirausahawan.
Kemiskinan tak membuat kami berhenti menggapai cita-cita kami. Kemiskinan membuat kami semakin bersemangat menggapai cita-cita kami.
Berikut inilah awal dari kisahku.
Kuliah di Perguruan Tinggi idaman adalah dambaan semua orang. Sayangnya, tidak semua orang bisa kuliah di Fakultas atau Universitas idamannya. Tahun 1997 adalah tahun yang menegangkan dalam salah satu langkah hidupku. Mengapa demikian? Tahun ini, aku lulus SMA. Sayangnya, aku belum ketrima di perguruan tinggi manapun. Masukin lamaran PMDK ke UNS jurusan Agrobisnis gagal. Daftar UMPTN jurusan Teknik Sipil (lagi-lagi UNS sebagai pilihan pertama dan Undip sebagai pilihan kedua) juga gagal.
Akhirnya, daripada tidak kuliah, aku kursus. Dengan pertimbangan setelah kursus, kerja setahun, setelah itu kuliah deh. Tetap di PT idaman: Undip atau UNS. Mengapa sih mereka berdua menjadi PT idamanku? Alasannya konyol jauh dari logika apalagi realita? Aku merasa otakku memang cocok di dua PT itu. Kalau di Unnes eman-eman otakku – maaf ya yang merasa kuliah di sana, kalau di UGM atau ITB jauh nian kekuatan otakku yang sedang-sedang saja ini – maksudku kekuatan otakku tuh diantara Unnes dan UGM. PT yang terletak diantara kedua PT itu adalah Undip dan UNS. Menurutku lho. Konyol kan?
Lakon hidupku berjalan sesuai perencanaan. Yeah, aku kursus setahun, kerja setahun, dan kemudian berjuang empot-empotan masuk Undip – pilihan akhirnya ke sini deh, habis kursusnya di Semarang. Kerjanya juga di Semarang. Ambilnya program DIII. Kalau SI, sudah tidak bisa. Sudah lewat masanya.
SAPIKU SAYANG, SAPIKU MALANGSapi adalah hewan ternak dari familia Bovidae dan subfamilia Bovinae. Selain dipelihara untuk bercocok tanah (menarik bajak, dan lain-lain), sapi juga diambil susu dan dagingnya. Sapi buat orang desa adalah harta yang sangat bernilai. Ibaratnya, dia emas hingga harus berada satu rumah dengan pemiliknya. Orang Jawa memasukkannya sebagai salah satu raja kaya. Raja kaya yang lain adalah kerbau dan kambing. Lalu apa hubungannya sapi dengan kuliahku? Kalimat-kalimat selanjutnya akan menjawab hubungan sapi dengan kuliahku
Waktu itu sore hari ketika aku tiba di tempat yang akan menjadi kampusku tercinta: Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro. Aku ditemani Hilyatul Aulia, seorang teman asal Batang yang kuliah di Universitas Semarang Fakultas Ekonomi Manajemen. Dari Peterongan ke Fakultas Sastra kami berjalan kaki.
“Ayo, cepat sedikit Ri!” katanya sambil melihatku yang masih berjalan pelan di belakangnya.
“Iya, iya,” jawabku sambil mempercepat langkahku, menjajari langkahnya.
Kami terus melangkah dalam diam. Kepalaku dipenuhi dua pertanyaan: diterima atau tidak. Jalanan yang mulai lengang tak lagi kupedulikan. Gedung Fakultas Sastra pun mulai terlihat. Gedung fakultas – yang bisa berdiri dan terwujud berkat kerja keras panitia yang diketuai oleh Prof. Soenario, S.H., pada tanggal 1 September 1965, dengan Surat Keputusan Menteri PTIP. No.173/1965, tanggal 21 Agustus 1965, dan diresmikan oleh Menteri PTIP dr. Syarif Thayeb pada tanggal 12 September 1965 – tampak berdiri megah dengan gedungnya yang unik, khas peninggalan penjajah Belanda.
Kakiku melangkah ke pintu gerbang, melewati sejumlah mahasiswa yang berkerumun dan bersenda gurau dengan teman-temannya. Di depan sana, di depan gedung TU Fakultas Sastra, sejumlah orang juga berkerumun, membaca sesuatu. Aku tahu apa yang mereka baca. Pasti pengumuman penerimaan mahasiswa baru Program Diploma III Bahasa Inggris Fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Aku mempercepat langkahku. Ganti Hilya yang kepontal-pontal mengikuti langkahku. Aku tak mempedulikannya. Kurasakan langkah kakiku semakin cepat.
Tempat yang kutuju sudah ada di depanku. Aku menyeruak diantara kerumunan. Kubaca satu per satu nama yang terpampang di selembar kertas folio yang ditempel begitu saja di papan pengumuman. Belum juga kutemukan namaku. Aku terus mencari. Di sana di bawah sendiri, tertulis namaku: Riyawati. Aku berjingkrak kegirangan. Hilya yang melihatku hanya tersenyum. Dia berjalan mendekatiku, mengulurkan tangannya dan berkata pelan, “Selamat ya!” Aku menerima uluran tangannya dan tertawa lebar. Kami pulang ke kos dengan senyum selalu terlihat di wajahku.
Biarkan kuceritakan sedikit tentang diriku sebelum kuliah di Fakultas Sastra. Di atas sudah kutuliskan kalau aku akan kursus setahun, kerja setahun, dan kuliah. Aku kursus di LPK Perhotelan Grasia – sekarang sudah tidak ada. Kemudian aku kerja setahun di sebuah rumah makan sebagai tenaga serabutan. Pada waktu aku bekerja di rumah makan inilah, aku bertemu teman dekatku pada masa SMA. Maulidah Izayanti namanya. Dia mengajakku ke kosnya. Aku pun pindah ke sana dan meninggalkan pekerjaanku di rumah makan. Aku dan teman-teman Maulidah membuat molen sebagai usaha sampingan. Kami mahasiswa miskin – minus aku tentu saja karena belum jadi mahasiswa – berjuang sekuat tenaga menggapai cita-cita menjadi sarjana dengan berjualan molen.
Aku memberitahu kedua orang tuaku kalau aku diterima di Undip. Bukan, bukan lewat telepon yang kami punyai sendiri. Tapi, lewat tetangga yang kebetulan mempunyai telepon. Aku mengatakan pada ibuku untuk mempersiapkan uang. Keesokan harinya aku pulang.
Semarang-Purwodadi terasa lama sekali dalam bis bobrok yang berjalan di atas jalan yang bobrok juga. Jalan Semarang-Purwodadi sudah sering diperbaiki tapi masih tak pernah baik. Mungkin karena struktur tanah yang labil yang membuat aspal gampang mengelupas hingga batu-batu yang menutup jalan berhamburan ke luar.
Bus merambat pelan. Udara panas, bau bensin bercampur keringat, dan asap rokok membuat kepalaku berkunang-kunang. Bus terus melangkah tak mempedulikan diriku yang sedang pusing berat karena ulahnya.
Kota Purwodadi sekarang tampak di depan mata. Kota yang merupakan ibu kota dan sebuah kecamatan di Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah bagian timur dengan geografi berbentuk lembah yang diapit oleh dua pegunungan kapur, yaitu Pegunungan Kendeng di bagian selatan dan Pegunungan Kapur Utara di bagian utara.
Dua pegunungan tersebut terdiri dari hutan jati, mahoni dan campuran yang memiliki fungsi sebagai resapan air hujan disamping juga sebagai lahan pertanian meskipun dengan daya dukung tanah yang rendah.
Lembah yang membujur dari barat ke timur merupakan lahan pertanian yang produktif, yang sebagian telah didukung jaringan irigasi. Lembah ini selain dipadati oleh penduduk juga terdapat banyak aliran sungai, jalan raya dan jalan kereta api yang menghubungkan Surabaya-Semarang dan sebaliknya serta Surabaya-Jakarta dan sebaliknya.
Purwodadi juga terkenal dengan masakan swikenya yaitu makanan yang berbahan utama paha kodok. Sekitar dua puluh lima kilometer ke arah timur Purwodadi, ada obyek wisata Bledug Kuwu. Bledug Kuwu adalah sebuah kawah lumpur (mud volcanoes) yang terletak di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Propinsi Jawa Tengah. Tempat ini dapat ditempuh kurang lebih 28 km ke arah timur dari kota Purwodadi. Bledug Kuwu merupakan salah satu obyek wisata andalan di daerah ini, selain sumber api abadi Mrapen, dan Waduk Kedungombo. Obyek yang menarik dari bledug ini adalah letupan-letupan lumpur yang mengandung garam dan berlangsung terus-menerus secara berkala, antara 2 dan 3 menit.
Secara geologi, kawah lumpur Kuwu, sebagaimana kawah lumpur lainnya, adalah aktivitas pelepasan gas dari dalam teras bumi. Gas ini biasanya adalah metana. Letupan-letupan lumpur yang terjadi biasanya membawa pula larutan kaya mineral dari bagian bawah lumpur ke atas.
Lumpur dari kawah ini airnya mengandung garam, oleh masyarakat setempat dimanfaatkan untuk dipakai sebagai bahan pembuat garam bleng (IPA: /bləng/) secara tradisional..Caranya adalah dengan menampung air dari bledug itu ke dalam glagah (bambu yang dibelah menjadi dua, lalu dikeringkan.).
Perlu Teman-Teman ketahui di belakang area Bledug Kuwu ada sebuah SMA. Di SMA itulah aku melewatkan masa remajaku. Kalau boleh aku cerita, waktu SMA aku gabung Kelompok Ilmiah Remaja atau KIR. Salah satu percobaannya adalah membuat telur asin dari bleng dan telur asin dari garam. Kami disuruh membandingkan hasil dari kedua percobaan itu. Hasilnya, telur yang diasinkan dengan bleng terasa kurang asin jika dibandingkan telur yang diasinkan dengan garam.
Sekarang aku berganti bis jurusan Sulursari. Bis masih ngetem beberapa saat sebelum akhirnya membawaku pulang ke rumah. Setelah beberapa saat ngetem, bis akhirnya berjalan pelan membawaku ke kampung halamanku sekitar dua puluh satu kilometer arah timur kota Purwodadi.
Rumahku berada di pertengahan antara Wirosari dan Kuwu. Sekitar dua kilometer ke arah selatan menuju Kuwu ada sebuah desa, Kalirejo namanya. Di desa inilah aku menghabiskan masa kecilku. Sesuai dengan namanya Kalirejo, kali atau sungainya benar-benar rejo atau ramai. Apalagi kalau musim kemarau. Setiap pagi dan sore orang-orang berdatangan untuk mandi, mencuci baju, buang hajat atau untuk memandikan ternak-ternaknya.
Lusi adalah nama sungai yang mengalir di desaku. Sungai Lusi adalah sebuah sungai yang melintas di tengah-tengah Kabupaten Grobogan dari timur mulai dari Bulu Kabupaten Rembang hingga bertemu dengan Sungai Serang di Penawangan Kabuapten Grobogan Jawa Tengah. Sungai ini terletak di antara pegunungan Kapur Utara dan pegunungan Kendeng. Sungai ini melewati berbagai wilayah di Kabupaten Rembang dan Kabupaten Grobogan Jawa Tengah.
Daerah aliran sungainya meliputi; Bulu Kabupaten Rembang ke selatan hingga Kabupaten Blora. Dari Kabuapten Blora terus ke barat melalui Banjarejo, Kunduran, Ngaringan, Wirosari, Tawangharjo, Purwodadi hingga bertemu dengan sungai Serang.Sungai Serang sendiri ke utara bermuara di Laut Jawa dan ke selatan berhulu di Waduk Kedungombo Jawa Tengah.
Rumahku sendiri berada persis di pinggir jalan raya. Begitu turun dari bis, aku langsung bisa melihat rumahku.
Kedua orang tuaku sudah menungguku. Aku mencium kedua tanga mereka. Setelah mandi dan makan, aku menemui mereka. Kujelaskan singkat saja. “Uang yang kubutuhkan sekitar dua juta rupiah. Apakah sudah ada?”
Orang tuaku tak langung menjawab. Mereka terdiam sebentar. Ibuku yang angkat bicara akhirnya, “Hanya ada sapi.” Aku tahu maksudnya. Sekarang Pk. 17.00. Masih ada waktu sebelum batas akhir pembayaran kuliah.
“Mak, tahu blantik – blantik adalah orang yang pekerjaannya menjual dan membeli sapi – di desa ini?”
Ibuku tak langsung menjawab. “Pak, kuwi ditakoni anake – Pak, itu ditanyai anaknya,” ibuku berbicara dengan ayahku. Ayahku hanya diam saja. Tak memberi solusi apa-apa. Aku berdiri. Aku tahu yang harus kulakukan. Lek Mul adalah blantik kecil di desaku. Kuputuskan ke rumahnya. Kujelaskan maksud kedatanganku. “Sapimu kuwi payune paling siji pitu – sapimu lakunya paling hanya satu tujuh,” kata Lek Mul. Aku menawar untuk harga lebih tinggi. Satu koma tujuh masih jauh dari biaya kuliah. Lek Mul tak berani memberi harga tinggi.
“Lek, ngertos blantik liya – lek tahu blantik lain?” tanyaku dengan bahasa Jawa Ngoko campur Kromo.
“Ana. Omahe ing Majapahit. Kowe rana takok wae jeneng Lek Wagiyo. Kabeh wong wis padha ngerti – ada. Rumahnya di Majapahit. Kamu ke sana saja. Tanya saja nama Lek Wagiyo. Semua orang sudah kenal dirinya,” jelas Lek Mul.
Kukayuh sepedaku ke Mojopahit, sekitar dua kilometer dari tempat tinggalku. Setiap orang yang kutemui kutanyai nama itu. Aku belum beruntung. Orang yang kutanya tidak ada yang mengenalnya. Aku bertanya lagi pada penduduk asli Mojopahit. Aku beruntung. Orang yang kutanyai mengenal Lek Wagiyo. Dia bahkan dengan sukarela mengantarku ke rumah Lek Wagiyo.
Alhamdulillah. Allah Akbar. Lek Wagiyo ada di rumah. Kuceritakan maksud kedatanganku. Dia dengan gembira mendengar ceritaku. “Ya, sudah kalau begitu. Aku ke rumah Mbak Riya untuk melihat sapinya,” katanya akhirnya.
Aku mengayuh sepeda duluan. Lek Wagiyo mengikuti di belakangnya dengan sepeda motornya. Tak memerlukan waktu lama untuk sampai ke rumah. Aku langsung menuju ke tempat sapi itu. Ayah dan ibuku sudah ada di sana, menunggui sapi itu. “Itu sapinya, Lek,” kataku sambil menunjuk sapi itu.
“Satu sembilan, Mbak,” katanya setelah melihat sapi itu. Aku agak kaget mendengar tawarannya. Masih jauh dari biaya kuliah.
“Naik sedikit Lek,” tawarku. “Satu sembilan belum bisa membayar kuliahku.”
“Satu sembilan sepuluh,” jawabny. “Pas! Tidak kurang.”
“Maksud satu sembilan sepuluh apa?” tanyaku tak mengerti.
“Satu juta sembilan ratus sepuluh ribu,” jelasnya.
Aku mengerti. Aku mendekati kedua orang tuaku. Kujelaskan tawaran Lek Wagiyo. Mereka berdua menyetujuinya. Tak ada jalan lain untuk bisa membayar uang kuliah. Kemudian aku mendekati Lek Wagiyo. Aku katakan padanya kalau kedua orang tuaku setuju menjual sapinya dengan harga satu sembilan sepuluh.
Sekarang, Teman-Teman tahu ‘kan hubungan sapi dan kuliahku. Uang pangkal kuliahku dibiayai dari sapi kedua orangtuaku yang kujual sendiri.
BUAH ASAM ITU MANIS RASANYAAsam Jawa adalah sejenis buah yang masam rasanya; biasa digunakan sebagai bumbu dalam banyak masakan Indonesia sebagai perasa atau penambah rasa asam dalam makanan, misalnya pada sayur asam atau kadang-kadang kuah pempek.
Asam jawa dihasilkan oleh pohon yang bernama ilmiah Tamarindus indica, termasuk ke dalam suku Fabaceae (Leguminosae). Spesies ini adalah satu-satunya anggota marga Tamarindus. Buah ini mempunyai nama lain asam (Mly.), asem (Jw.), sampalok (Tagalog), ma-kham (Thai), dan tamarind (Ingg.). Buah yang telah tua dan sangat masak biasa disebut asem kawak.
Asam jawa mempunyai banyak kegunaan terutama dalam pengobatan tradisional. Asam jawa tumbuh liar di kawasan barat India dan di benua Afrika di bagian selatan Padang Pasir Sahara. Ketinggian asam jawa mencapai 26 meter tetapi di Indonesia asam jawa tumbuh rendah dengan ketinggian yang jarang melebihi 10 meter. Asam Jawa terbagi menjadi dua jenis masam dan yang sedikit manis.
Asam jawa banyak digunakan dalam pengobatan tradisional. Di India, orang India mengunyah kulit pokok asam bersama -sama dengan daun sirih atau dimakan begitu saja untuk menjaga kesehatan badan, terutaman sekali untuk wanita yang mengandung. Di Yukatan, air rebusan Asam Jawa yang dicampur dengan gula diminun sebanyak tiga kali sehari untuk mengobati cacingan dan sebagai penawar penyakit disenteri berdarah.
Buah yang rasanya masam dan banyak sekali gunanya ini pernah berubah menjadi manis di lidahku. Waktu itu Semarang begitu panas. Beras di kontrakan sudah habis. Uang saku dari orang tua juga sudah habis tandas dimakan tanggal tua. Teman-teman satu kosku juga mengalami masa yang sama. Benar-benar kritis. Seharian perut ini minta diisi. Tak ada yang buat mengisinya. Diantara rasa lapar yang menyengat, temanku, Umi mengajakku ke Perpustakaan Daerah di Jl. Sriwijaya. Dari rumah kontrakan kami di Jalan Peterongan, kami jalan.
Kami berdua melangkah gontai, berusaha mengembalikan semangat ’45, dalam perjalanan menuju gudang ilmu kota Semarang dan Jawa Tengah: Perpustakaan Daerah. Matahari bersinar terik menyengat kepala. Udara panas kota Semarang menebarkan aroma kelapa muda dengan sirup dan esnya. Wow, segar sekali pasti rasanya setelah meminumnya. Pohon asam tumbuh rindang, menjulang tinggi di tepi Jalan Sriwijaya. Daunnya yang mulai menguning dimakan musim kemarau berguguran. Angin bertiup pelan membawa sedikit rasa segar, haus pelan menghilang, aroma es kelapa muda itu… . Entah mengapa, tak ada sempurna. Buah asam yang mulai tua berjatuhan. Klungsunya – orang Jawa menyebut isi buah asam dengan nama klungsu – yang berwarna kecoklatan bertebaran di pinggiran jalan.
Mataku melihatnya, menatap asam-asam yang berjatuhan lekat. Masih samakah rasanya? Masih tetap asam, seperti dulu ketika aku memakannya bersama teman-temanku di sebuah desa di Kabupaten Grobogan. Tampaknya Umi tak memperhatikan yang aku perhatikan. Dia terus melangkah bersemangat meski perut melilit minta diisi. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan kecuali mengikuti langkah-langkahnya meski kakiku terasa berat untuk melangkah. Kudengar pelan, perutku berbunyi keras, menyuruh tanganku mengambil asam-asam itu. Perasaanku malu sebenarnya. Sayangnya lidahku meminta mencicipi. Lidah ini memandang asam-asam itu kelu. Umi terus berjalan. Aku tak lagi mempedulikannya. Kuhentikan langkah kakiku. Kupandangi asam-asam itu.
"Um!" panggilku.
Umi berhenti. "Ada apa?"
"Itu," jawabku sambil menunjuk ke buah asam.
Umi merespon tanganku dengan cepat. Mahasiswa Fakultas Ekonomi itu meraih buah yang kutunjuk cepat.
"Dia sama kelaparannya denganku," batinku.
Kurasa tadi Umi juga berpikir sama denganku. Hanya saja, dia juga malu sepertiku. Sayangnya, rasa lapar itu tak mau berkompromi dengan gengsi kami. Rasa lapar itu membuat kami mengambil asam-asam yang berjatuhan di pinggir Jalan Sriwijaya Semarang. Aku tak berpikir lama. Aku mengikuti jejaknya. Kuraih asam-asam itu dengan tanganku. Satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya. Asam-asam itu berpindah tempat. Mereka sekarang nangkring di tasku. Bersembunyi diantara buku-bukuku. Menunggu kumakan ketika masanya tiba. Diantara pengendara sepeda motor yang berjalan di samping kananku, aku membungkuk dan terus mengambil buah asam itu. Tak kupedulikam apa yang mereka pikirkan tentangku dan juga Umi, aku juga memasukkan buah asam yang ada di tangan itu ke mulutku. Entah mengapa, buah asam itu begitu manis rasanya. Aku ketagihan. Kuambil sebanyak-banyaknya. Sayangnya, mulutku tak lagi muat. Asam-asam itu kembali kutempatkan di tempatnya semula: dalam tasku, tersembunyi diantara buku-bukuku. Menunggu kumakan ketika masanya tiba.
Kami melanjutkan perjalanan. Perpusda sudah di depan mata. Gudang ilmu dengan tiga lantai ini benar-benar tempat nyaman untuk memakan asam-asam manis tadi. Aku buru-buru naik ke lantai dua. Sebenarnya, ada dua ruangan di lantai dua. Yang pertama adalah ruang buku-buku umum dimana semua orang yang mempunyai kartu anggota perpustakaan bisa meminjamnya. Ruang ini terletak di sebelah kiri tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua. Ruang kedua adalah ruang buku literatur yang tak bisa dipinjam untuk dibawa pulang. Buku-buku di ruangan ini hanya bisa dibaca di tempat atau bisa juga difotokopi dengan syarat pengunjung yang ingin memfotokopi buku harus meninggalkan kartu identitasnya, bisa KTP, SIM, atau Kartu Mahasiswa. Ruangan ini biasanya tenang, jarang ada pengunjungnya. Ruangan inilah yang menjadi tujuanku.
Pintu kubuka. Suara berdecit terdengar pelan. Para pengunjung menoleh ke arahku dan Umi. Aku dan Umi melangkah ke dalam dengan tenang. Mereka kembali beralih ke bacaannya. Ke buku-buku besar yang sudah ada di depan mereka. Aku menengok ke seluruh ruangan. Mencari tempat yang layak: agak tersembunyi dan tak ada orang di meja yang sama. Kulihat kursi itu. Di pojok ruangan ada meja yang tak ada penghuninya. Kakiku melangkah ke sana. Pelan kutaruh tasku di atas meja. Kududukkan pantatku di atas kursi. Kulihat sekelilingku. Orang-orang tampak asyik dengan buku bacaannya masing-masing.
Paulo Coelho berkata, “Saat seseorang benar-benar menginginkan sesuatu, segenap alam semesta akan membantu orang itu untuk mewujudkan mimpinya". Benar pulalah kata-kata penulis The Alchemist ini. Aku menginginkan sesuatu, dan kesempatan itu datang padaku, untuk mewujudkan keinginanku itu. Suasana sunyi-senyap ketika kumasukkan tanganku ke dalam tasku. Kuraih asam-asam itu yang bersembunyi di antara buku-bukuku. Pelan kukeluarkan segenggam asam dalam tanganku. Kuamati asam-asam itu sejenak. Kulirik sebelahku. Umi sudah memasukkan asam-asam itu ke dalam mulutnya. Aku berlaku sama. Asam-asam itu kubiarkan ada di atas mejaku. Kututupi buku-buku yang sudah ada di meja yang kutempati sekarang – tampaknya orang-orang sebelumku enggan mengembalikan buku-buku itu ke tempatnya semula – kuambil satu buah asam. Kukupas kulitnya dan kubuang ke dalam kulit-kulit asam itu ke dalam tas – akan kubuang nanti ketika aku meninggalkan tempat ini. Kemudian, kumasukkan asam itu ke dalam mulutku. Hmmm! Manis nian rasanya asam jawa ini. Aku ingin lagi, lagi, dan lagi. Asam Jawa itu sudah berpindah tempat sekarang, ke dalam perutku yang masih terus merasa lapar. Pernahkah Teman merasakan yang sedang kurasakan sekarang?
Lapar itu masih ada. Tapi, tak lagi begitu terasa. Allah telah memberiku nikmat-Nya yang tak
terkira lewat Asam Jawa yang manis rasanya.
MOLENKU, MOLEN KITAPisang Molen adalah suatu hidangan ringan berbahan baku pisang yang dilapisi lembar-lembar adonan dan kemudian digoreng. Hidangan ini merupakan variasi dalam pengolahan dari pisang goreng.
Dan aku, atas nama perjuangan agar bisa terus kuliah menjajakan molen itu. Bukan, bukan di kampus tapi di kantin-kantin sekolah. Setiap pagi sebelum kuliah aku menitipkan molen-molen yang kubuat semalam di kantin-kantin tersebut.
Sebelum molen diedarkan, yang pertama-tama dilakukan adalah membuat adonan molen itu sendiri. Tidak mudah untuk membuatnya. Perlu tenaga ekstra. Berikut ini adalah bahan-bahan yang harus disiapkan untuk membuat molen: tepung terigu, margarin, gula, vanili, garam dan air. Cara membuatnya adalah: pertama-tama panaskan margarin di atas kompor. Setelah meleleh, masukkan gula. Aduk sampai gula hancur. Tambahkan panili. Setelah itu, dinginkan di dalam ember besar. Jangan sampai terlalu dingin, karena margarin akan membeku kembali. Masukkan tepung terigu. Mula-mula aduk dengan tangan. Kemudian siapkan kantong plastik. Bungkus kaki dengan kantong plastik. Adonan dibentuk dengan kaki yang dibungkus kantong plastik. Setelah itu, buat kepalan-kepalan. Butuh waktu sekitar dua jam untuk membuat adonan molen. Setelah itu, biarkan molen.
Pagi-pagi sekali aku dan teman-teman kosku lainnya bangun. Kami bekerja sesuai dengan deskripsi pekerjaan yang diberikan pada kami. Bagianku adalah membuat adonan dan mengedarkan molen itu. Jadi, sambil menunggu molen jadi, aku mandi dulu. Persiapan sebelum mengedarkan molen.
Lalu bagaimana proses membuat molen selanjutnya? Satu kepal adonan dihaluskan dengan mesin penghalus – mesin penghalus ini biasanya adalah mesin yang digunakan untuk membuat mie juga. Setelah jadi panjang, adonan itu diserahkan ke bagian yang menutup pisang dengan adonan tadi. Temanku menutup pisang yang sudah diiris dengan adonan yang sudah dihaluskan dengan mesin tadi. Langkah selanjutnya adalah menggoreng molen-molen tadi di atas wajan. Setelah itu, tugaskulah untuk mengantar molen-molen itu ke kantin-kantin sekolah.
Berjalan kaki memang banyak manfaatnya. Tidak hanya dapat membakar kalori tubuh dan menurunkan berat badan, ternyata berjalan kaki juga mempunyai banyak manfaat. Selain sebagai olahraga dengan risiko cedera paling rendah jalan kaki juga bisa dilakukan tanpa memerlukan banyak persiapan. Universitas terkemuka di dunia telah melakukan penelitian tentang manfaat jalan kaki. Di sini aku hanya menuliskan empat manfaat jalan kaki dan universitas atau lembaga yang melakukan penelitian tentangnya. Duke University Medical Center mengemukakan penelitiannya bahwa berjalan kaki selama 30 menit dalam sehari dapat mengurangi metabolic syndrome, yaitu sindroma penyebab tingginya risiko terkena penyakit jantung, diabetes dan stroke. Sedangkan di Inggris sebuah penelitian menyatakan bahwa berjalan kaki selama 30 menit dalam sehari mengurangi 11% risiko seorang perempuan terkena penyakit jantung.
Journal of the American Medical Association dalam penelitiannya juga menyebutkan bahwa berjalan kaki beberapa jam dalam sepekan dapat mengurangi risiko kanker payudara, karena ketika berjalan timbunan lemak akan berkurang dan akan menjadi sumber estrogen.
Berjalan kaki cepat dapat meningkatkan hormon serotonin, dan berjalan kaki cepat di sore hari dapat membuat tidur lebih nyenyak (National Sleep Foundation).
Brown University dan University of Pittsburg menyebutkan bahwa berjalan kaki selama lima hari dalam sepekan dan mengkonsumsi 1.500 kalori setiap hari dapat megurangi berat badan sebanyak 11,3 Kg dalam setahun.
Hebat ‘kan manfaat jalan kaki bagi manusia. Tapi, kalau itu setiap hari dan berkilo-kilo jauhnya apa yang akan terjadi? Tubuh kurus tak bisa agak gemuk sedikit, capai luar biasa, dan betis pun jadi kaku dan besar.
Sayangnya, itulah yang kulakukan setiap hari. Aku mengantar molen-molen itu ke kantin sekolah dengan berjalan kaki. Waktu itu, aku tidak mempunyai motor dan tidak bisa naik motor. Jadi, agar tetap bisa hidup di Semarang, agar tetap bisa membayar fotokopi diktat-diktat kuliah, agar tetap bisa kuliah, agar cita-citaku tercapai, aku melakukan itu semua. Berjalan kaki berkilo-kilo jauhnya untuk menitipkan molen-molen itu. Setiap hari dari Peterongan aku berjalan ke SMP Negeri 2 di Milo, SMA Institut Indonesia di daerah Halmahera, SD Peterongan, IKIP PGRI Semarang untuk mengantar molen-molen itu.
Pernah karena terlambat bangun, aku juga terlambat mengantarkan molen ke kantin SMP Negeri 2 Semarang. Ibu kantin menolak molen-molenku. Istirahat pertama sudah lewat alasannya. Molen-molen itu takkan laku dijual. Aku terpukul sekali. Molen yang kubawa lumayan banyak, sekitar lima puluh buah. Kalau tidak terjual, usaha molen kami akan merugi. Itu sudah pasti. Akhirnya, aku tunggui molen-molen itu. I hope a miracle will come. Aku percaya akan ada keajaiban untukku. Keajaiban yang membuat molen-molenku laku semuanya.
Finally, the miracle has come. Anak-anak kelas dua SMP 2 selesai berolahraga. Mereka berlarian ke kantin. Kudekati mereka dengan satu kardus molen di tanganku. Satu anak melihatku dengan tatapan mata kasihan. Dia mendekatiku dan membeli satu molenku. Kemudian dia berlalu dari hadapanku, kembali ke teman-temannya dan membisikkan sesuatu di telinga teman-teman yang didekatinya. Setelah membisikkan kata-kata yang tak mungkin kudengar, anak-anak itu melihatku. Aku hanya tersenyum sebagai balasannya. Mereka mendekatiku. Tiap anak mengambil satu molenku dan membayarnya. “Alhamdulillah,” pekikku pelan. Molen-molen itu laku terjual. Belum semua. Masih ada yang tersisa. Aku berharap keajaiban lainnya.
Allah mendengar doa hamba-Nya. Kelas lain selesai berolahraga. Anak-anak berlarian ke kantin. Aku mendekati mereka dengan molenku yang tersisa. Mereka berhenti berceloteh, ganti menatapku dengan tatapan mata yang lagi-lagi tatapan kasihan. Satu diantara mereka mendekatiku. Dia membeli molenku. Yang lain menyusul, melakukan hal yang sama. “Alhamdulillah,” ucapku pelan. “Molenku laku semua. Kami tak jadi rugi.”
Usaha molen kami memang tak jadi merugi. Tapi, aku pribadi yang rugi. Jam pertama kuliah dengan mata kuliah Reading I terlewatkan begitu saja. Aku tak mengikuti mata kuliah yang diajar oleh dosenku yang sudah agak tua tapi wajahnya masih menyisakan sisa kecantikannya pada masa muda: Bu Kusumawardhani.
Perjuangan ada pengorbanan. Hari ini dengan terpaksa aku korbankan mata kuliah Reading I. Senin depan, aku akan usahakan bangun pagi-pagi sekali agar aku tak lagi terlambat mengantar molen dan bisa mengikuti mata kuliah Reading I.
Hari-hari kuliahku tak seperti hari-hari kuliah teman-temanku. Mereka hanya kuliah, hang out, mengerjakan tugas, balik ke kos dan tidur. Hari-hari kuliahku adalah hari-hari perjuangan. Perjuangan mati-matian untuk membiayai kuliahku. Orang tuaku hanya membayar uang pangkal sekolahku, selebihnya semua harus dibiayai sendiri.
Malam hari aku membuat adonan molen, pagi hari mengantar molen ke kantin-kantin sampai Pk. 08.00, selanjutnya kuliah dan mulai Pk. 15.00 datang ke rumah-rumah, ngelesi sejumlah siswa yang butuh bantuan teman belajar. Pernah selama satu semester aku pegang sembilan siswa. Setiap hari kecuali hari Minggu aku ngelesi dari Pk 15.00 sampai Pk. 20.30. Sampai di rumah mandi, istirahat sebentar dan mebuat molen. Rutinitas yang menjemukan sekaligus melelahkan. Sayangnya, dari pekerjaan inilah semua biaya kuliah bisa dibayar.
Hari Minggu adalah hari yang menyenangkan bagiku. Aku bisa rehat sejenak dari rutinitasku yang membosankan dan melelahkan. Tidak bisa dikatakan rehat seratus persen sih. Masalahnya, pada hari Minggu aku juga jualan molen di pasar Sendiko. Pasar Sendiko adalah pasar yang letaknya di depan persis pasar Peterongan Semarang. Dengan senyum ramah dan suara renyah kutawarkan molen-molenku. Sampai akhirnya sebuah peristiwa yang tak terduga terjadi.
Kulihat seorang gadis mungil berjilbab berdiri di depan daganganku. Aku tak sempat memperhatikan wajahnya. Hanya saja, reflek aku menawarkan molenku. “Molen Mbak,” kataku. “Enak untuk sarapan atau sekedar oleh-oleh untuk orang di rumah.” Gadis di depanku tak langsung mnejawab tawaranku. Dia menatapku lekat. Aku ganti menatapnya. Dua mata bertatapan.
“Mbak Riya,” pekiknya kaget.
“Lu…Lulu,” panggilku terbata-bata. Kurasakan wajahku terasa panas. Malu tak terkira. Gadis mungil berjilbab itu teman kuliahku. Sekelas malah. Aku tak tahu harus berkata apa. “Molen, Lu,” kata-kata itulah yang kudengar keluar dari mulutku.
Lulu tak langsung menjawab. Dia masih menatapku lekat. “Maaf, Mbak,” katanya akhirnya. “aku baru mau pulang. Jadi,…”
“Tidak apa-apa, Lu,” potongku membesarkan hatinya.
“Aku duluan ya, Mbak,” katanya setelah itu dia berlalu dari hadapanku.
Aku hanya bisa menatap kepergiannya. Satu lakon hidupku sudah diketahui temanku. Aku melanjutkan kembali pekerjaanku.
Keesokan harinya. Aku memulai hariku seperti biasa. Yang agak luar biasa adalah ketika aku sampai di tempat kuliah. Teman-temanku sedang berkerumun. Aku mendekati mereka. Ketika melihatku datang, mereka menghentikan pembicaraannya. Kulihat Lulu ada diantara mereka. Aku bisa menduga apa yang sedang terjadi. Lulu pasti bercerita tentang pertemuannya denganku kemarin. Aku memilih meninggalkan mereka. Lia, teman dekatku dari Tegal, mengikuti di belakangku. Dia berjalan menjejeri langkahku.
“Ri, benar kamu jualan molen?” tanyanya langsung saja.
Aku tak langsung menjawab. “Lulu ya yang cerita?” tanyaku menjawab pertanyaan Lia. Lia tersenyum menjawab pertanyaanku.
“Iya, aku jualan molen. Kemarin aku ketemu Lulu di pasar Sendiko,” jelasku akhirnya. “waktu itu aku memang sedang jualan molen.”
Setelah itu hanya ada diam diantara kami. Aku melanjutkan langkahku ke ruang kuliah. Lia mengikuti menuju ruang yang sama. Kami memang mengambil mata kuliah yang sama.
Itulah sekelumit perjuanganku untuk menggapai cita-citaku. Ya, pada akhirnya aku berhasil menjadi Sarjana Muda. Pada tahun 2002 aku diwisuda di Gedung Taru Budaya Semarang. Pada tahun yang sama aku melanjutkan SI di Fakultas Sastra Universitas yang sama. Penuh perjuangan yang berliku dan mengharu biru. Tapi, itu cerita yang lain. Di sini aku hanya menceritakan perjuanganku dalam menggapai Sarjana Mudaku.
Link Sponsor di sini:
http://denaihati.com/Referensi
http://imannugraha.multiply.com/recipes/item/3/Manfaat_Berjalan_Kaki
http://pkukmweb.ukm.my/~ahmad/tugasan/s3_99/suana.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_jawa
http://budayaundip.colibri.co.id/sastra.php?go=sejarah
http://id.wikipedia.org/wiki/Purwodadi,_Grobogan
http://www.geocities.com/claudie_lum/sopsoto/swike_purwodadi.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Lusi